Into The Wild: Society, You’re A Crazy Breed

Pada pertengahan tahun 1992, mayat seorang pemuda ditemukan oleh rombongan pemburu di tengah alam liar Taman Nasional Denali, Alaska. Mayat tersebut diidentifikasi sebagai Christopher McCandless, seorang pemuda dari keluarga mapan dan berpendidikan baik yang memilih jalan hidupnya sendiri dengan bertualang dan tinggal di alam liar sendirian. Kisah hidup McCandless lalu tertuang dalam buku karya Jon Krakauer dan film arahan Sean Penn dengan judul Into The Wild.

Saya harap pembaca sudah membaca atau minimal menonton filmnya. Saya terlalu malas untuk menceritakan lagi tentang kehidupan dan petualangan McCandless yang tragis dan menakjubkan itu. Kisah yang mengharu biru tentang seorang pemuda eksentrik yang terseret pada sastra yang dibacanya, mencari sendiri model kehidupan yang didambakannya, menemukannya dalam wujud kehidupan di alam liar seorang diri, dan mati di tengah sunyi. Kisahnya juga boleh disebut sebagai cerita manusia yang bergerak keluar dari masyarakatnya, manusia yang sudah terlalu kecewa dan muak dengan kemunafikan khas dunia sosial yang penuh tipu daya gincu dan tata simbol rekaan, manusia yang melarikan diri dari kegilaan masyarakat yang membentuknya.

Telah diperkenalkan kepada kita sejak masa mahasiswa baru, seorang bernama Erving Goffman. Saya tak mau dan tak pandai berteori, tapi secara sederhana saya tahu ia terkenal karena pemikirannya mengenai dramaturgi. Kehidupan sosial bak panggung sandiwara dimana tiap orang beradegan sesuai plot yang telah ditentukan. Kita berdandan dengan make-up tebal menutup wajah asli, membentuk semacam topeng semu yang ajaib dimana bentuknya bisa berubah sesuai keberadaan. Barulah ketika seorang diri, ketika tak ada orang lain di sekitar, kita melepas topeng itu lalu berkaca dan melihat wajah yang sama sekali berbeda, wajah asing yang kita lupa pernah lihat dimana. Kita berlalu dan malu di depan cermin, memakai topeng lagi, pergi lagi ke tengah-tengah kerumunan orang, dan hampir tak pernah berani lagi melihat diri sendiri.

McCandless, seorang dari keluarga kelas menengah atas yang cerdas dan bahkan sanggup masuk Harvard setelah lulus dari Emory, memilih jalan yang berbeda dari kebanyakan kita. Ia pergi dari tengah keramaian. Ia berjalan seorang diri dan tersesat oleh petualangan yang diharapakannya. Petualangan seorang diri yang baginya lebih bermakna dari apapun juga. Petualangan dimana ia melepas atribut-atribut dirinya yang lama dan mengganti dirinya dengan atribut baru. Ya, ia mengubah namanya menjadi Alexander Supertramp, ia hampir tak pernah bilang bahwa ia adalah sarjana, ia juga tak pernah lagi merasa sebagai anak dari keluarga yang mapan, ia menghilang dari tempelan-tempelan yang diletakkan masyarakat pada dirinya. Ia menjadi dirinya sendiri. Seutuhnya. Tak ada lagi yang mengusik batinnya, karena ia tak seperti kita, ia berani menatap wajahnya sendiri di cermin, dan bahkan dengan brutalnya membuang jauh-jauh topeng yang menutupi wajahnya selama ini.

Saya lalu ingat seorang editor majalah travel pernah mengicaukan sebaris kalimat di akun twitternya yang berbunyi getting lost will help you find yourself. Dengan menengok pada petualangan McCandless kita jadi tahu makna kalimat itu. Ketersesatannya dari masyarakat justru membuat ia menemukan dirinya. Ia tak lagi melihat dengan kabur karena tak ada lagi masyarakat yang menghalanginya untuk melihat dirinya sendiri. Ya, untuk sekedar melihat diri sendiri.

Lalu, pada suatu malam di tengah petualangannya sebelum menuju Alaska, di suatu bar di Carthage saat ia sedang menetap disana dan bekerja di ladang milik Wayne Westerberg, McCandless berbincang dengan bosnya itu dalam keadaan agak mabuk. Ia mengatakan bahwa ia lelah dengan masyarakat, lelah karena orang saling membenci, lelah karena mereka munafik, lelah karena mereka mengontrol, lelah karena mereka menghakimi, lelah. Tak bisa dipungkiri memang bahwa ide tersebut dipengaruhi juga oleh buku-buku yang dibacanya dan hubungan orang tuanya yang tak harmonis. Ia lelah, ia pergi. Sesederhana itu.

Dalam versi filmnya, Eddie Vedder, vokalis Pearl Jam, menyertakan sebuah lagu berjudul Society sebagai salah satu soundtrack film. Penggalan liriknya seakan menyuarakan apa yang dipikirkan McCandless tentang masyarakat. Mungkin saja itu hanya interpretasi Vedder terhadap kisah McCandless, tapi saya setuju dengannya. Saya setuju dan yakin bahwa McCandless juga setuju terhadap refrain lagu yang mendayu-dayu tersebut.

Society, you’re a crazy breed, I hope you’re not lonely without me.

_____________

Sarani Pitor Pakan, Sosiologi UI 2009